MORFOLOGI
TUMBUHAN MONOKOTIL DAN DIKOTIL
TINJAUAN
PUSTAKA
Monokotil
mencakup semua tumbuhan berbunga yang memiliki kotiledon tunggal (berkeping
biji tunggal), batang bagian atas tidak bercabang. Umumnya berdaun tunggal,
kecuali pada golongan palma (kelapa, palem) dengan tulang daun melengkung atau
sejajar. Jaringan xilem dan floem pada batang dan akar tersusun tersebar dan
tidak berkambium.Bunga memiliki bagian-bagian dengan kelipatan 3, bentuk tidak
beraturan dan berwarna tidak menyolok. Dikotil
mencakup semua tumbuhan berbunga yang memiliki 2 kotiledon (berkeping biji
dua). Daun dengan pertulangan menjari atau menyirip. Batangnya berkambium, oleh
karena itu mengalami pertumbuhan sekunder. Pembuluh xilem dan floem tersusun
melingkar (konsentris). Akar berupa akar tunggang ujung akar lembaga tidak
dilindungi selaput pelindung. Jumlah bagian-bagian bunga berkelipatan 4 atau 5
( Anshori dan Hartono, 2009).
Dapat
diketahui juga bahwa perbedaan yang
mencolok antara tumbuhan dikotil dan monokotil terletak pada berkas pembuluh
pada tumbuhan dikotil terlihat lebih teratur, sedangkan berkas pembuluh pada
tumbuhan monokotil terlihat berkas pembuluh yang tidak teratur (Aryuliyana,
2004).
PEMBAHASAN
Tumbuhan
monokotil merupakan bagian dari tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae).
Salah
satu contoh tanaman monokotil adalah jagung(Zea mays), keadaan
morfologi tumbuhan jagung dapat dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Jagung
adalah tanaman semusim yang mengambil masa lebih kurang 3 bulan untuk matang.
2. Akar
sokong pada pangkal batang menolong menyokong pokok.
3. Batang
runggal, berbentuk silinder, panjang dan ditutupi dengan upih daun dan
mempunyai buku yang lebih rapat dekat pada pangkal.
4. Daun
tirus dan panjang dengan urat yang selari.
5. Rambut jagung (jambak bunga jantan) yang
terdapat di hujung batang pokok menghasilkan biji-biji debunga sebelum bunga
betina matang.
6. Tongkol
yang terdapat di ketiak daun pokok matang mengandungi biji benih jagung.
7. Jambak bunga betina (stil) yang panjang dan
berupa sutera terdapat di tongkol muda dan menerima cepu bunga jantan.
8. Pembuahan adalah dibantu oleh angin.
9. Biji atau kernal mengandungi tiga bahagian
yaitu, perikarpa, endosperma dan embrio.
Selain
tumbuhan monokotil, juga ada tumbuhan dikotil, salah satu contoh tumbuhan
dikotil adalah kacang hijau (Phaseolus radiatus), yang keadan
morfologinya dapat di jelaskan sebagai berikut:
1. Tanaman kacang hijau berbatang tegak
dengan ketinggian sangat bervariasi, antara 30-60 cm, tergantung
varietasnya.cabangnya menyamping pada batang utama, berbentuk bulat, dan
berbulu. Warna batang dan cabangnya ada yang hijau ada yang ungu.
2. Daunnya trifoliate (terdiri dari
tiga helaian) dan letaknya berseling. Tangkai daunnya cukup panjang, lebih
panjang dari daunnya. Warna daunnya hijau muda sampai hijau tua.
3. Bunga kacang hijau berwarna kuning,
tersusun dalam tandan, keluar pada cabang serta batang, dan dapat menyerbuk
sendiri.
4. Polong kacang hijau berbentuk
silendris dengan panjang antara 6-15 cm dan biasanya berbulu pendek. Sewaktu
muda polong berwarna hijau dan setelah tua berwarna hitam atau cokelat. Setiap
polong berisi 10-15 biji.
5. Biji kacang hijau lebih kecil
disbanding biji kacang-kacangan lain. Warna bijinya kebanyakan hijau kusam atau
hijau mengkilap, beberapa ada yang berwarna kuning, cokelat, dan hitam.
6. Tanaman kacang hijau berakar
tunggang dengan akar cabang pada permukaan.
Antara
tumbuhan monokotil dan dikotil terdapat beberapa perbedaan, antra lain yaitu
dapat kita lihat pada tabel berikut ini:
|
Monokotil
|
Dikotil
|
|
1. Memiliki sistem akar serabut
2. Bentuk sumsum atau pola tulang daun melengkung atau
sejajar
3. Ada tudung akar / kaliptra
4. Memiliki 2 kotiledon
5. Tidak terdapat cambium
6. Jumlah kelopak bunga umumnya
kelipatan tiga
7. Ditemukan batang lembaga / koleoptil dan akar lembaga / keleorhiza
8. Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar
|
1.
Memiliki sistem akar
tunggang
2.
Bentuk sumsum atau
pola tulang daun menyirip atau menjari
3.
Tidak terdapat ada
tudung akar
4.
Memiliki 1 kotiledon
5.
Ada cambium
6.
Jumlah kelopak bunga
umumnya kelipatan empat atu lima
7.
Tidak ada pelindung
koleorhiza maupun koleoptil
8.
Bisa tumbuh
berkembang menjadi membesar
|
Selain
jagung, juga ada padi yang juga merupakan tumbuhan monokotil yang keadaan
morfologinya dapat kita jelaskan sebagai berikut:
1. Mempunyai akar serabut
2. Batang padi tersusun dari rangkaian
ruas-ruas dan antara ruas yang satu dengan ruas yang lainnya dipisahkan oleh
sesuatu buku . ruas batang padi di dalamnya beringga dan bentuknya bulat.
3. Daun terdiri dari : helai daun
berbentuk memanjang seperti pita dan pelepah daun yang menyelubungi batang.
Selain
kacang hijau, juga ada tumbuhan mangga yang merupakan tumbuhan dikotil pula.
Yang keadaan morfologinya dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Mangga berakar tunggang yang bercabang-cabang, dari cabang akar
ini tumbuh cabang kecil-kecil, cabang kecil ini ditumbuhi bulu-bulu akar yang
sangat halus.
2. Bentuk batang mangga tegak, bercabang agak kuat, daun lebat
membentuk tajuk yang indah berbentuk kubah, oval atau memanjang. Kulitnya tebal
dan kasar dengan banyak celah-celah kecil dan sisik-sisik bekas tangkai daun.
Warna kulit yang sudah tua biasanya coklat keabuan, kelabu tua sampai hampir
hitam.
3. Daun terdiri dari dua
bagian, yaitu tangkai daun dan badan daun. Badan daun bertulang dan
berurat-urat, antara tulang dan urat tertutup daging daun.
Berikut beberapa saran untuk pertanian di Indonesia terutama di
Aceh:
1. Lebih ditingkatkan lagi sosialisasi tentang pertanian organik
kepada masyarakat.
2. Mengadakan pemberian penyuluhan tentang teknologi pertanian kepada
para petani.
3. Pemberian modal kepada para petani.
4. Ditingkatkan nya kelembagaan usaha dan kelembagaan tani.
5. Para lulusan pertanian seharusnya mengabdikan dirinya di sektor
pertanian dan mengabdikan ilmu yang sudah didapat di perguruan tinggi untuk
memajukan pertanian Indonesia khususnya Aceh, bukannya di sektor lain seperti
di sektor perbankkan.
6. Dll.
DAFTAR
PUSTAKA
Anshori, Moch dan Martono, Joko. 2009.
Biologi untuk Sekolah Menengah Atas
(SMA)- Madrasah Aliyah (MA) Kelas X. Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan
Nasional, Jakarta.
Aryuliyana, Diah dkk.
2004. Biologi SMA XI. Erlangga, Surabaya.